Uang haram

Dalam kitab Zad al-Ma'ad, Ibn al-Qayyim al-Jauzi, menukil suatu riwayat tentang uang haram. Diceritakan, Abdullah ibn Rawahah diutus oleh Nabi untuk memungut zakat di lingkungan penduduk (Yahudi) Khaibar. Mereka bermaksud menyuap Abdullah.

 

Terang saja Abdullah marah dan menolaknya, seraya berkata, ''Apakah kalian mau memberi makan saya uang haram ?

Janganlah kecintaanku kepada Rasul dan kebencianku kepada kalian membuatku berlaku tidak adil,'' sambungnya lagi. Mereka mngangguk dan berkata, ''Sikap adil adalah kekuatan yang membuat langit dan bumi tetap tegak.''

 

Dalam riwayat di atas, uang haram itu dinamai al-suht, dari kata sahata, yashut yang berarti al-haram atau sesuatu yang tak ada kebaikan di dalamnya (al-ladzi la yubarak fih). Kata al-suht, menurut pakar bahasa al-Farra' bermakna 'lapar' atau 'kelaparan'

(syiddat al-ju').

 

Ungkapan rajulun mashut menunjuk pada orang yang kelaparan yang makan apa saja, ia tidak pernah kenyang. Orang yang kelaparan cenderung mengambil dan makan apa saja secara membabi buta.

 

Kata al-suht, menurut pakar tafsir Ibn 'Asyur, mencakup semua uang atau pendapatan yang diperoleh secara tidak halal, seperti riba, suap, makan harta anak yatim, dan barang-barang hasil curian (al-maghshub). Yang paling besar dan paling buruk dari semua itu adalah suap (risywah).

 

Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam pernah ditanya tentang makna al-suht. Jawabnya, ''Al-Risywah fi al-hukm

 

Alquran juga mengingatkan bahwa uang haram itu,

seperti halnya riba, tak ada kebaikan di dalamnya, yakni mamhuq

(QS Al-Baqarah [2]: 276) dan mendatangkan siksa bagi tuannya.

 

Dalam salah satu fatwanya, Jadul Haqq Ali Jadul Haqq, mantan Syaikh al-Azhar, mengingatkan kaum Muslim agar menjauhkan diri dari uang haram (al-suht). Caranya, kita mula-mula harus meninggalkan kebiasan buruk, mencari harta dengan cara-cara yang tidak halal seperti korupsi, manipulasi, dan melakukan praktik suap.

 

Allah Azza Wa Jalla Berfirman

 

''Dan janganlah sebagian kamu memakan sebagian harta yang lain di antara kamu dengan cara yang batil.'' (QS al-Baqarah [2]: 188).

 

Lalu, kita tidak boleh membiarkan, apalagi mendukung dan bekerja sama dengan orang-orang yang melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dukungan dan kerja sama hanya untuk dan atas dasar kebaikan dan takwa (QS Al-Maidah [5]: 2).

 

Selanjutnya, kaum Muslim diingatkan tentang azab dan siksa Tuhan, tak saja di dunia, tetapi juga di akhirat.

 

Seperti diterangkan dalam Alquran dan juga dalam banyak hadis, uang haram (al-suht) dan yang sejenis itu akan diperlihatkan oleh Allah kelak di akhirat.

 

Seperti diterangkan dalam Alquran dan juga dalam banyak hadis, uang haram [al-suht) dan yang sejenis itu akan diperlihatkan oleh Allah kelak di akhirat.

 

Alloh Azza Wa Jalla BerFirman :

 

Barangsiapa berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan membawa apa yang dikhianatkannya."

(QS Ali Imran (3) 161) Wallahu a'lam Bishawab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong

My self

Sejarah KRL Commuter line Indonesia